Batu Saluran Kemih

Saluran kemih pada manusia terdiri dari ginjal, ureter, kandung kemih, hingga uretra dan kemudian bermuara di ujung saluran kemih. Penyakit batu saluran kemih adalah salah satu penyakit saluran kemih yang sering terjadi dengan angka kejadian berkisar antara 1% hingga 20%. Di beberapa negara dengan standar kesehatan yang tinggi seperti Swedia, Kanada dan Amerika Serikat, angka kejadian penyakit ini bahkan dapat melebihi 37% dala 20 tahun terakhir. Angka kasus batu saluran kemih dapat dipengaruhi oleh beberapa hal, seperti usia, jenis kelamin, ras, genetik, wilayah tempat tinggal dan cuaca, obesitas dan masalah metabolik seperti diabetes, infeksi, dan efek samping penggunaan obat-obatan.

Gambar 1. Anatomi Saluran Kemih. (Diadaptasi dari URL: https://www.msdmanuals.com/home/kidney-and-urinary-tract-disorders/stones-in-the-urinary-tract/stones-in-the-urinary-tract. Diakses pada 20 Agustus 2020)

Sesuai dengan pembagian saluran kemih seperti yang telah disampaikan sebelumnya, batu saluran kemih pun dapat dibagi menjadi batu ginjal, batu ureter, batu buli, dan batu uretra. Batu ini terbentuk akibat kristalisasi supersaturasi urin yang menempel di saluran kemih akibat kurangnya konsumsi cairan dalam tubuh, diet tinggi garam, kurangnya konsumsi sitrat, tingginya konsumsi protein hewani, dan hiperparatiroid. Batu pada saluran ureter, kandung kemih, dan uretra dapat timbul akibat turunnya batu yang berasal dari ginjal. Namun, batu kandung kemih juga dapat berupa sebagai batu primer yang terbentuk akibat proses yang sama seperti pada ginjal.

Gambar 2. Batu saluran kemih (ginjal dan ureter). (Diadaptasi dari URL: https://www.msdmanuals.com/ home/kidney-and-urinary-tract-disorders/stones-in-the-urinary-tract/stones-in-the-urinary-tract. Diakses pada 20 Agustus 2020)

Tanda dan gejala yang dapat terjadi pada batu saluran kemih dapat menimbulkan gejala yang berbeda sesuai dengan posisi dimana batu tersebut berada. Keluhannya dapat berupa nyeri pinggang dengan rasa tajam seperti ditusuk-tusuk maupun nyeri pinggang seperti pegal-pegal. Ada pula yang dengan gejala nyeri pinggang yang terasa menjalar ke daerah perut depan atau lipat paha yang dapat disertai dengan demam, mual, muntah, nyeri berkemih, BAK berpasir, hingga BAK kemerahan atau bercampur darah. Jika gejala tersebut timbul, maka anda mungkin memiliki gejala batu saluran kemih. Anda dapat segera datang dan berdiskusi dengan Dokter Spesialis Urologi untuk mendapatkan penjelasan mengenai kelainan yang Anda rasakan. Berbagai pemeriksaan pun dapat dilakukan untuk menyimpulkan kondisi kesehatan Anda, seperti pemeriksaan fisik, laboratorium darah, urin, USG, foto roentgen perut, maupun CT-scan.

Berbagai pilihan pengobatan pada kondisi batu saluran kemih dapat dimulai dari modifikasi gaya hidup dengan meningkatkan jumlah konsumsi air putih, menghindari faktor risiko dan berolahraga. Selain itu terdapat pula pilihan penggunaan obat-obatan untuk membantu mengeluarkan batu secara spontan, hingga terapi pembedahan baik dengan maupun tanpa pisau atau minimal invasif. Saat ini, pedoman tatalaksana untuk batu saluran kemih dari Ikatan Ahli Urologi Indonesia (IAUI) dan Asosiasi Ahli Urologi Eropa (EAU) menganjurkan untuk batu ginjal dengan ukuran di bawah 2 cm, dapat dilakukan tindakan ESWL. Ini merupakan tindakan minimal invasif untuk pemecahan batu dengan menggunakan gelombang kejut, dapat dikerjakan cepat dan tidak memerlukan pembedahan dengan pisau. Biasanya pasien juga dapat pulang di hari yang sama, tanpa memerlukan rawat inap. Pasien dapat berbaring dan akan dilakukan pemecahan batu menggunakan gelombang kejut ini sebanyak +/-  2000 hingga 3000 tembakan. Tentu pilihan terapi ini juga tergantung dari jenis batu yang ada, posisi batu, dan bentuk anatomi ginjal dari Anda sendiri.

Pilihan terapi minimal invasif lain yang saat ini juga sedang berkembang adalah percuatenous nephrolithotripsy (PCNL). Teknik ini merupakan teknik pembedahan batu ginjal, namun hanya sedikit membuat sayatan pada kulit. Tindakan ini biasanya dapat dilakukan pada kondisi batu ginjal yang ukurannya lebih dari 2 cm dan memiliki komponen batu yang keras. Kemudian ada pula pilihan tindakan minimal invasif yang disebut dengan retrograde intrarenal surgery (RIRS). Teknik ini menggunakan suatu alat yang fleksibel dan tanpa membuat sayatan pada kulit, dimasukkan melalui muara saluran kemih dan kemudian menghancurkan batu dengan laser. Teknik ini dapat digunakan pada batu yang ukurannya tidak terlalu besar, namun memiliki komponen batu yang keras. Pilihan yang terakhir pada kondisi batu ginjal adalah pembedahan secara terbuka. Pembedahan ini membuat luka sayatan yang cukup lebar di daerah pinggang, dan memerlukan waktu rawat inap yang lebih lama dibandingkan dengan terapi minimal invasif.

Gambar 3. Prosedur PCNL dan RIRS (Diadaptasi dari: Patel AP, Knudsen BE. Hinman’s Atlas of Urologic Surgery. 4th ed. Philadelphia: Elsevier, 2018. Chapter 27, Percutenous nephrolitotomy. p. 224. dan Vishal Vig. Kidney Stone and Laser Treatment. [internet]. Punjab: Net 2 High Tech [Disitasi pada 20 Agustus 2020]. Tersedia di: URL: http://www.drvishalvigurologist.com/.)

Pada kondisi batu ureter, piilhan terapi yang ada juga hampir menyerupai pada kondisi batu ginjal, yaitu modifikasi gaya hidup, penggunaan obat-obatan, dan terapi pembedahan baik secara terbuka maupun minimal invasif. Untuk pilihan terapi minimal invasif dapat dilakukan dengan menggunakan ureterorenoscopy (URS). Seperti halnya RIRS, alat ini dimasukkan melalui ujung kemaluan, dan kemudian batu dipecahkan dengan menggunakan gaya pneumatik (ditumbuk) atau laser. Tindakan URS ini merupakan rekomendasi utama pada kondisi batu ureter baik yang berukuran di bawah maupun di atas 1 cm. Lama perawatannya sendiri +/- 2-3 hari (hampir sama dengan PCNL atau RIRS), dan tidak menimbulkan luka sayatan pada kulit. Pilihan terapi selanjutnya dapat menggunakan teknik laparoskopi. Keuntungan yang didapat adalah operator dapat langsung melihat struktur anatomi dari saluran ureter dari luar dengan menggunakan kamera laparoskopi, sehingga batu tidak dipecahkan, melainkan dikeluarkan secara utuh, tanpa adaya kemungkinan sisa batu yang terpental atau terdorong naik ke ginjal, dibandingkan dengan teknik URS. Namun, teknik ini dianjurkan pada batu ureter yang ukurannya lebih dari 1 cm. Pilihan terapi yang terakhir adalah teknik terbuka dengan pisau. Mirip halnya dengan pembedahan terbuka pada batu ginjal, teknik ini menimbulkan luka sayatan yang cukup lebar di daerah pinggang, dan biasanya memerlukan waktu rawat inap yang lebih  lama dibandingkan dengan terapi minimal invasif.

Untuk kasus batu buli, perlu dipikirkan apakah penyebab dari batu ini dan jenis dari batunya, apakah merupakan suatu batu primer atau sekunder. Batu primer biasanya ditemukan pada anak-anak dengan defisiensi vitamin A. Pada kondisi batu buli yang berulang pada usia lanjut, dapat dipikirkan pula kemungkinan adanya permasalahan seperti stroke, pembesaran prostat, maupun neurogenic bladder. Terapi batu ginjal juga sebaiknya mengikuti dari penyebab dari batu itu sendiri. Pilihan terapi yang ada dapat dimulai dari modifikasi gaya hidup, diet, olahraga, penggunaan obat-obatan, hingga terapi pembedahan minimal invasif maupun terbuka. Pilihan terapi minimal invasif yang ada dapat berupa litotripsi atau penghancuran batu dengan teknik pneumatik atau laser. Jika ukuran batu di atas 2 cm atau pada usia anak-anak (<18 tahun), pembedahan secara terbuka merupakan pilihan utama. Namun, sebelum melakukan tindakan pembedahan terbuka, pada pasien usia dewasa sebaiknya perlu dilakukan tindakan sistoskopi (memasukkan alat sistoskop yang terdiri dari sheath, lensa, dan kamera) terlebih dahulu. Tindakan ini adalah tindakan minimal invasif dengan cara memasukkan alat dengan kamera melalui ujung kemaluan, yang berguna untuk menilai kondisi kandung kemih sebelum dilakukan tindakan pembedahan. Jika didapatkan ukuran batu >3 cm, dapat pula dilakukan biopsi atau pengambilan jaringan untuk diperiksakan di bagian Patologi Anatomi untuk menyingkirkan kemungkinan kanker kandung kemih, karena pasien dengan batu buli berukuran >3 cm cenderung untuk mengalami iritasi kronik pada kandung kemih.

Gambar 4. Prosedur sistoskopi untuk penghancuran batu (litotripsi). (Diadaptasi dari St George Urology. Lithopaxy (removal of bladder stones). [internet]. New South Wales: St George Urology [Disitasi pada 20 Agustus 2020]. Tersedia di: URL: https://www.stgeorgeurology.com.au/lithopaxy-removal-of-bladder-stones/.)

Terakhir, pada kasus batu uretra, batu ini biasanya terjadi akibat adanya migrasi atau perpindahan batu dari kandung kemih, yang berusaha dikeluarkan oleh tubuh melalui mekanisme berkemih, namun terhalang atau tersangkut dikarenakan ukurannya yang yang lebih besar dibandingkan dengan diameter dinding dalam uretra. Pilihan terapi pada pasien ini hanya dapat dilakukan dengan pembedahan, baik secara minimal invasif maupun pembedahan terbuka. Namun, pembedahan secara terbuka memiliki risiko yang lebih besar, dikarenakan anatomi uretra yang lebih sulit untuk dilakukan pembedahan terbuka dibandingkan saluran kemih lainnya.

Sebagai kesimpulan, batu saluran kemih dapat dibagi berdasarkan lokasi dan jenis batunya. Pilihan pengobatannya pun bervariasi mulai dari modifikasi gaya hidup, diet, penggunaan obat-obatan, hingga pembedahan baik secara minimal invasif dan pembedahan. Selain itu diperlukan pula untuk konsultasi dengan teman sejawat Dokter Spesialis di bidang lain untuk kemungkinan penyulit yang timbul pada pasien dengan kondisi batu saluran kemih, seperti darah tinggi, diabetes, dan sebagainya.

Daftar Pustaka:

1. Turk C, Neisius A, Petri A, Seitz C, Skolarikos A, dkk. EAU Guidelines on Urolithiasis. 2020.

2. Rasyid N, Duarsa GWK, Atmoko. Panduan Penatalaksanaan Klinis Batu Saluran Kemih. IAUI. 2018

Penulis:

dr. Johannes Aritonang, B.Med.Sc., Sp.U.

Dokter Spesialis Urologi RS Mentari (Legok, Karawaci), RS Mitra Keluarga Pratama (Jatiasih, Bekasi), dan RS Royal Progress (Sunter, Jakarta).

Leave a comment