Operasi ‘kerok’ prostat (TURP)

Prosedur TURP

Transurethral resection of the prostate (TURP) atau kadang dikenal dengan operasi ‘kerok prostat’ adalah suatu prosedur operasi untuk mengatasi masalah pembesaran prostat. Secara harafiah TURP dapat diartikan sebagai berikut:
·       Transurethral: melalui urethra (saluran kencing)
·       Resection: memotong / mengambil sebagian
·    Prostate: Prostat/ suatu organ kelenjar yang berada (mengapit) di antara saluran kencing, bila mengalami pembesaran dapat menghambat aliran kencing.
TURP umumnya dianggap sebagai pilihan bagi pria yang memiliki masalah berkemih sedang hingga parah yang tidak respon terhadap obat minum. Sampai dengan saat ini TURP dianggap sebagai terapi yang paling efektif untuk pembesaran prostat.


Pada prosedur TURP alat yang disebut resectoscope, dihubungkan melalui sistem kamera, berfungsi sebagai ‘teropong’ akan dimasukkan melalui ujung penis ke dalam urethra. Resectoscope membantu dokter Anda melihat dan ‘mengerok’ kelebihan jaringan prostat yang menghalangi aliran urin. Operasi ini merupakan operasi tanpa sayatan.
Prosedur TURP biasanya membutuhkan waktu sekitar 1 hingga 1,5 jam. Jenis pembiusan biasanya dilakukan dengan pembiusan spinal atau setengah badan. Pada tipe pembiusan ini pasien akan sadar selama operasi namun tidak dapat merasakan nyeri mulai dari pinggang hingga kaki.
Perawatan setelah operasi
Prosedur TURP pada umumnya memerlukan lama perawatan 3-4 hari. Pasien datang 1 hari sebelum operasi untuk memeriksa kesiapan operasi, kemudian perawatan pasca operasi 2-3 hari setelahnya.
Kapan TURP dikerjakan?
TURP membantu mengurangi gejala kemih yang disebabkan oleh benign prostatic hyperplasia / pembesaran prostat jinak (BPH), termasuk:
·       Sering berkemih hingga sulit ditahan
·       Kesulitan untuk  memulai buang air kecil
·       Aliran kencing yang lambat dan berkepanjangan
·       Peningkatan frekuensi buang air kecil di malam hari
·       Berhenti dan mulai lagi saat buang air kecil
·       Perasaan untuk tidak bisa sepenuhnya mengosongkan kandung kemih Anda
·       Infeksi saluran kemih
TURP juga dapat dilakukan untuk mengobati atau mencegah komplikasi karena aliran urin yang tersumbat, seperti:
·       Infeksi saluran kemih berulang
·       Kerusakan ginjal atau kandung kemih
·       Ketidakmampuan untuk mengontrol buang air kecil atau ketidakmampuan untuk buang air kecil sama sekali
·       Batu kandung kemih
·       Darah dalam urin
Risiko
Risiko TURP dapat mencakup:
Kesulitan buang air kecil sementara. Pasien dapat mengalami kesulitan buang air kecil selama beberapa hari setelah prosedur. Hal ini dapat dikarenakan kandung kemih yang belum terbiasa melakukan ‘aktivitas normal’ kembali akibat pemakaian kateter jangka panjang ataupun pembengkakan saluran kemih pasca operasi.
Infeksi saluran kemih adalah komplikasi yang mungkin terjadi setelah prosedur prostat. Infeksi semakin sering terjadi pada pasien yang terpasang kateter dalam waktu lama.
Tidak keluar cairan saat ejakulasi. Hal ini merupakan efek yang cukup umum dan jangka panjang dari semua jenis operasi prostat. Hal ini juga dikenal dengan ejakulasi retrograd, yaitu cairan ejakulasi dan sperma yang seharusnya keluar melalui lubang penis namun masuk kembali ke dalam kandung kemih. Hal ini adalah kedaan yang tidak berbahaya dan umumnya tidak memengaruhi kenikmatan seksual.
Disfungsi ereksi. Walaupun risikonya kecil, disfungsi ereksi masih dapat terjadi setelah operasi prostat.
Pendarahan hebat. Pasien dengan prostat yang besar akan berisiko lebih tinggi mengalami kehilangan darah yang signifikan. Namun kejadian pasien hingga membutuhkan transfusi sangat jarang terjadi.
Kesulitan menahan kencing. Beberapa pasien ada yang mengalami kehilangan kontrol kandung kemih (inkontinensia) sehingga pasien kadang ‘mengompol’. Hal ini dapat terjadi sebagai komplikasi jangka panjang dari TURP.
Sindroma TURP. Komplikasi ini walaupun jarang terjadi namun bila tidak ditangani dengan baik dapat berakibat fatal. Keadaan ini diakibatkan oleh terdilusinya natrium dalam darah akibat cairan saat operasi TURP.
Perlu perawatan ulang. Beberapa pasien memerlukan perawatan lanjutan setelah TURP karena gejala tidak membaik. Kadang-kadang, perawatan ulang diperlukan karena TURP menyebabkan penyempitan leher kandung kemih akibat luka dan proses penyembuhan yang abnormal.
Artikel ini ditulis oleh:
dr. Maruto Harjanggi, BSc(Hons), Sp.U
Spesialis Urologi
Kontributor Urologi.id

Leave a comment